Jakarta – Aturan PSSI yang membatasi klub hanya bisa diperkuat maksimal dua pemain berusia 35 tahun ke atas di Liga 1 tak membuat Cristian Gonzales waswas. Hanya saja, dia meminta agar PSSI menimbang lagi aturan itu sebelum kompetisi benar-benar bergulir.

Pengumuman itu dituturkan PSSI pada Januari 2017. PSSI beralasan kalau aturan itu dibuat untuk mendongkrak stok pelatih. PSSI berpikiran para pemain yang pensiun lebih cepat akan segera mengambil lisensi pelatih.

Suara kontra menyebut kalau usulan itu membuat para pemain yang berusia lebih dari 35 tahun akan kesulitan untuk mendapatkan klub Liga 1 pada musim 2017. Salah staunya datang dari APPI.

Gonzales yang masih produktif pada usia 40 tahun dan bahkan menorehkan diri sebagai topskor Piala Presiden 2017 meminta agar PSSI tak membuat peraturan yang mengada-ada.

“Buat saya tidak apa-apa. Kalau tim percaya sama saya, pasti masih ada tempat buat saya. Kebetulan di Arema tidak ada masalah (dengan aturan itu), karena cuma ada saya (pemain berusia di atas 35 tahun),” kata Gonzales kepada detikSport, Minggu (26/3/2017).

“Tapi kalau bicara jujur (aturan) itu kurang bagus. Cara itu tak membuat sepakbola Indonesia maju. Karena FIFA tak mengatur hal seperti itu,” tutur pemain 40 tahun itu.

Istri Gonzales, Eva, yang mendampinginya saat berada di Jakarta, menimpali agar PSSI membuat kajian mendalam sebelum menerapkan keputusan tersebut. Sebab, Indonesia masih memiliki pemain senior yang bisa bersaing dengan para pemain muda.

“Minta tolong aturan itu dikaji ulang. Mohon aturan itu dikaji ulang. Ada banyak sekali pemain senior di Indonesia yang bisa bermain di Liga 1. Contoh saja apa yang ditunjukkan Gonzales pada Piala Presiden, tak perlu yang lalu-lalu, yang masih hangat bagaimana penampilan Gonzales. Itu cuma contoh,” tutur Eva.

“Kalau pemain senior dipangkas, para pemain junior akan melihat apa? Dengan adanya pemain senior maka mereka punya panutan langsung di atas lapangan. Yang senior itu bisa mengatrol kemampuan yang muda-muda. Toh, yang senior tahu kapan harus berhenti. Kalau mereka tidak bisa sepakbola lagi, mereka mereka akan setop sendiri,” imbuh dia.

(fem/din)