Jakarta – Pertandingan tersebut akan berlangsung di Stadion Teladan, Minggu (26/3/2017). Kedua tim terbilang sudah lama tidak berjumpa pasca dualisme sepakbola di Indonesia tahun 2011/12. PSMS kala itu turut terbagi dua hingga mengalami penurunan prestasi yang drastis.

Namun jauh sebelumnya, pertemuan kedua tim punya sisi emosional yang tinggi di era perserikatan. Pertemuan Persib dan PSMS tak jarang disebut-sebut sebagai laga El Clasico-nya perserikatan. Jauh lebih sengitnya dari Persib vs Persija.

Legenda Persib, Yudi Guntara, berbagi kisah tentang kenangan di masa perserikatan. Menurut pemain yang berposisi sebagai pemain tengah itu, tensi tinggi mulanya terjadi di final 1985.

“Rivalitas keduanya pertama kali saya tahu cuma dari berita sama pemain-pemain senior di Persib aja. Katanya PSMS itu musuh bebuyutan, padahal kita unggul teknik tapi takluk mental,” ucap Yudi kepada detikSport.

“Itu pertandingan final perserikatan 1985. Saya belum ikut. Persib ketinggalan 0-2 terus bisa samain skor 2-2 sampai adu penalti. Nah, kita takluk di situ. PSMS dikenal tim yang mainnya keras waktu itu,” sambungnya.

“Tensi keduanya terus meningkat di pertemuan selanjutnya, ditambah Persib dan PSMS bagian tim perserikatan yang kuat di perserikatan. Tapi, yang hebatnya pemain kedua tim akur kalau di luar lapangan. Malahan PSMS suka undang Persib kalau ada acara,”

Sementara itu, Yudi mengiyakan bahwa dia belum merasakan tensi yang gereget meski sempat bermain di era perserikatan. Sebab, pemain yang menggunakan nomor punggung 5 itu baru bergabung dengan Persib pada 1991.

“Waktu di masa-masa saya, pertandingan lawan PSMS ngga ada lagi yang gereget. Karena waktu itu PSMS kekuatannya sudah menurun. Klub-klub yang kuat waktu itu semacam Persebaya sama PSM Ujung Pandang (kini bernama PSM Makassar),” lanjut dia.

Nama Yudi Guntara sangat melekat di benak bobotoh sampai saat ini. Itu lantaran golnya ke gawang PSM di final perserikatan 1993/94, yang membawa Maung Bandung unggul 2-0 dan keluar sebagai juara.

(din/din)