Jakarta – Keputusan menggelar playoff special untuk PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi menimbulkan polemik. PT Liga Indonesia menyebutnya sebagai wewenang PSSI.

PSBK dan Persewangi berebut urutan keempat babak Grup 5 Liga 2, sebagai syarat maju ke babak play-off untuk membuka kesempatan menghindari degradasi. Dalam laga penentuan, PSBK bertandang ke markas Persewangi. Pertandingan itu berakhir 2-1 untuk keunggulan Persewangi.

Dari hasil itu, setelah sama-sama menyelesaikan 12 laga, kedua tim sama-sama mengoleksi 18 poin. Dalam pertemuan pertama, PSBK unggul 2-0, jadi head to head yang dijadikan penentu jika nilai sama, juga sebanding 1-1.

Selisih gol sebagai poin pertimbangan kedua menjadi awal perkaranya. Persewangi sebelumnya diputuskan lolos ke babak playoff dengan berada pada urutan keempat klasemen akhir Grup 6 Liga 2 dengan surplus satu gol. Adapun PSBK selisih golnya nol.

Rupanya, PSBK keberatan dengan keputusan PT Liga Indonesia itu. Mereka pun bersurat kepada kepada PSSI. PSBK menyakini bahwa mereka yang berhak menempati posisi keempat karena menang head to head. PSSI merespons dengan memutuskan untuk menggelar playoff special.

[Baca Juga: Playoff Khusus yang Bikin PSBK Blitar dan Persewangi Adu Jotos di Kanjuruhan]

COO PT Liga Indonesia, Tigor Shalomboboy, bersikukuh keputusan menempatkan Persewangi di urutan keempat sudah sesuai peraturan.

“Kewenangan murni ada di federasi. Kami harus hormati itu keputusan PSSI dan posisi liga menjalankan ini semuanya. Kami juga berharap dengan ini menjadi sebuah pelajaran kesemuanya bahwa pemahamanan peraturan harus dipegang baik-baik,” ujar Tigor.

“Ini awalnya permasalahan head to head yang hitung prosesnnya berbeda dan melebar kemana-mana. Kami juga berharap ini bisa menjadi terakhir dan di tahun berikutnya tidak terjadi lagi. Tapi bicara lagi, ini semua ada kewenangan di federasi,” kata Tigor, yang juga menjabat sebagai manajer Departemen klub Lisensi PSSI tersebut.

“Sampai hari ini pun, kami tetap Persewangi (yang lolos) tapi tidak ada surat dari liga yang menyatakan membatalkan ketetapan itu. Bagi kami, apa yang kami lakukan dan menjadi pemahaman kami tentang head to head ya seperti itu,” Tigor menambahkan.

Akibat adanya playoff special, pertandingan kedua tim diwarnai perkelahian dan kekerasan. Pada akhirnya Komdis PSSI menghukum Persewangi lantaran dinilai tidak sportif. Persewangi dinyatakan bertekuk lutut 3-0 dan harus membayarkan denda Rp100 juta.

(ads/fem)