London – Graeme Souness menilai inkonsistensi yang diperlihatkan The Reds musim ini mirip-mirip dengan Red Devils pada saat ia masih bermain buat The Reds.

Souness, yang kini menjadi pundit sepakbola untuk Sky Sports, pernah berseragam The Reds pada periode 1978-1984. Pria Skotlandia berusia 63 tahun itu juga pernah memanajeri ‘Si Merah’ pada 1991–1994.

Dalam kolomnya di The Times, Souness menyebut skuat Juergen Klopp tidak konsisten, secara special ketika menghadapi tim-tim yang harusnya bisa mereka kalahkan. Padahal The Reds justru punya hasil bagus lawan tim-tim besar.

Di Premier League musim ini The Reds tercatat pernah takluk lawan Bournemouth, Swansea City, Hull City, dan Leicester City semenjak Desember, dan sudah kehilangan poin lawan West Ham United dan Sunderland.

“Suporter The Reds akan terheran-heran dengan timnya. Mereka main bagus lawan tim-tim top dan kemudian terpeleset saat melawan tim di bawah,” sebutnya seperti dikutip Independent.

“Ketika saya main untuk The Reds, ada Red Devils yang seperti The Reds saat ini. Mereka akan tampil oke menghadapi klub-klub besar, tapi mereka kemudian mendapat kekalahan mengecewakan dan hasil-hasil seri lawan tim di bawahnya.

“Untuk memenangi liga ini maka itu adalah sesuatu yang harus dibenahi. Di The Reds kami secara konstan diingatkan akan hal itu ketika kami jadi juara Eropa atau juara bertahan di liga,” tuturnya.

Pun begitu, Souness percaya bahwa The Reds akan mampu mengamankan posisi the big four musim ini. Menurutnya, The Gunner dan Red Devils adalah dua klub besar yang akan terlempar dari persaingan tersebut.

Souness menyebut MU, “Mungkin terlalu banyak mendapatkan hasil seri di paruh pertama musim”, dalam persaingan memperebutkan posisi the big four — lolos Liga Champions lewat jalur liga.

“The Gunner biasanya kepayahan di bulan Februari dan Maret, kemudian bangkit ke the big four lewat periode di akhir April dan Mei, tapi saya tidak melihat itu akan terjadi musim ini setelah kekalahan mereka di West Bromwich Albion. Selama masih ada spekulasi masa depan Arsene Wenger, itu jadi alasan lain buat (pemain dengan) kepribadian-kepribadian lemah dalam skuat mereka,” imbuhnya.

(krs/mrp)