London – The Reds dinilai punya peluang bagus finis di the big four, kendatipun juga ada satu masalah besar yang harus dicari solusinya terkait alternatif gaya main.

Hal itu dikatakan oleh Gary Neville, mantan pemain Red Devils yang kini menjadi pundit sepakbola, dalam analisisnya setelah The Reds unggul 2-1 atas Burnley.

Dalam laga di Anfield itu The Reds sempat tertinggal lebih dulu lewat gol cepat tim lawan, sebelum membalikkan keadaan dan meraih poin penuh.

Tambahan tiga angka membuat The Reds kini menempati posisi empat dengan 55 poin dari 28 pertandingan, di atas The Gunner (50 poin dari 26 laga) dan Red Devils (49 poin dari 26 laga).

“Pada akhirnya akan ada dua klub besar dan dua manajer top yang tersingkir dari the big four. Pada saat ini Anda dapat mengatakan bahwa jika setiap tim melaju seperti sekarang sampai akhir musim nanti, saya pikir The Reds bisa kesulitan,” ujar Neville di Sky Sports.

“Dalam beberapa aspek, mereka berpotensi jadi yang terlemah, tapi fakta bahwa mereka sedang punya laju yang amat bagus memberikan mereka keuntungan untuk meraih targetnya. Tapi persaingan sedemikian sengit dan berubah setiap pekan,” ujarnya.

Seluruh lima kekalahan The Reds di Premier League sejauh ini terjadi ketika menghadapi tim-tim dari paruh bawah papan klasemen. Menghadapi Burnley, yang kini berada di posisi 12 dan belum pernah unggul tandang, pun ‘Si Merah’ sempat kesulitan. Inilah masalah The Reds yang mesti dicari solusinya.

“Saya tak tahu apa ini masalah psikologis karena itu sudah terjadi sejumlah kali musim ini. Saya pikir ada masalah gaya dan taktik terkait gaya main The Reds,” ucap Neville.

“Kita sudah melihat penampilan-penampilan luar biasa mereka dalam laga-laga besar, dengan tim-tim lawannya itu sudah main terbuka, menyerang, dan ekspansif. Tapi ketika The Reds menghadapi tim yang lebih cenderung bertahan dan menjaga pola formasinya, mereka (The Reds) seperti tidak punya Rencana B.

“The Reds saat ini terhambat fakta bahwa mereka tidak punya skuat terkuat, tapi musim ini mereka sudah terbantu dengan fakta bahwa mereka punya sebuah programme bagus. Mereka tak punya Rencana B dlam konteks mengendalikan permainan dengan gaya berbeda, dan ketika tim-tim lawan membuat mereka tidak bisa memaksimalkan energi maka strategi itu jadi kurang efektif.

“Mereka punya peluang bagus di the big four, tapi mereka harus mengatasi masalah daya gaya bermainnya,” bebernya menganalisis.

(krs/mrp)